Minangkabau

Pada masa awal pembentukan budaya Minangkabau, hanya ada empat suku/klan induk, yakni:

  • Bodi : dari nama pohon Bhodi, pohon yang dikenal dalam agama Buddha sebagai tempat sang Buddha Gautama bersemedi dan mencapai pencerahan
  • Caniago : dari kata cha(ra)na dan niaga, yang berarti perjalanan anak dagang
  • Koto: berasal dari kata Katta (benteng, kubu)
  • Piliang: berasal dari kata Pili Hyang (para dewa)

Keempat klan tersebut membentuk 2 kelompok adat atau sistem kemasyarakatan, yakni:

  1. Koto-Piliang
    Kelompok ini awalnya adalah orang-orang yang menganut agama Hindu atau menerima pengaruh agama Hindu yang diperkirakan dibawa oleh pendatang dari India Selatan. Kelompok ini menerapkan hierarki masyarakat yang bertingkat-tingkat, yang cenderung bersifat aristorasi.
  2. Bodi-Caniago
    Kelompok kaum Buddha atau yang menerima pengaruh agama Buddha yang diperkirakan dibawah oleh pendatang dari Tiongkok, Campa dan Siam. Karakterisik agama Buddha yang memandang manusia sama derajatnya membuat kelompok ini tidak menerapkan hierarki, lebih cenderung bersifat konfederasi.

Kedua kelarasan ini menjalankan adat-istiadat khas masing-masing, yang mana dipercayai awal mulanya dibentuk oleh dua tokoh yang sangat penting bagi masyarakat Minang, yaitu Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang.

Datuak Katumanggungan lebih memilih sistem adat dan pemerintahan yang otoriter dan aristokrasi di laras Koto-Piliang (dikenal dengan sebutan Adat Temenggong), sementara Datuak Parpatiah Nan Sabatang lebih memilih sistem yang bersifat demokrasi di laras Bodi-Caniago (dikenal dengan sebutan Adat Perpatih).

Kedua tokoh ini dipercaya masih memiliki hubungan kekerabatan (satu ibu beda ayah), hidup di zaman kekuasaan Adityawarman di Pagaruyung.

Sumber: